Riset WVI: 33% Remaja Kristen Indonesia Tidak Membuat Komitmen Pribadi untuk Mengikuti Yesus Kristus

Riset WVI: 33% Remaja Kristen Indonesia Tidak Membuat Komitmen Pribadi untuk Mengikuti Yesus Kristus

- in Nasional
23
0

Ket Foto : Para Pembicara Peluncuran Global Teens SAtudy: Generasi Terbuka

Riset WVI: 33% Remaja Kristen Indonesia Tidak Membuat Komitmen Pribadi untuk Mengikuti Yesus Kristus

 

Jakarta, Cosmopolitanpost.com

 

Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama sejumlah lembaga gereja dan organisasi sosial peduli remaja di Indonesia menyelenggarakan Peluncuran Global Teens Study: The Open Generation yang dilaksanakan pada 22 November 2022 di GBI Tabernacle of David Medan, Sumatera Utara. Diskusi ini diadakan sebagai respons menindaklanjuti laporan penelitian global tentang remaja yang dikembangkan oleh Barna Group mengenai generasi terbuka terhadap Yesus, Alkitab dan keadilan.

Menurut laporan penelitian untuk Indonesia, di antara remaja Kristen yang di survey, 67% merupakan kelompok remaja yang berkomitmen pribadi untuk mengikut Yesus dan 33% yang menganggap dirinya nominal atau kelompok yang mengidentifikasi diri sebagai orang Kristen, tapi tidak membuat komitmen pribadi untuk mengikuti Yesus Kristus dan mereka membutuhkan pemimpin gereja dan orang tua untuk mereka belajar tentang Yesus.

Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora dalam sambutannya berharap penelitian ini dapat memperlengkapi dan memberdayakan para pemimpin Kristen untuk lebih memahami remaja dan bisa memfasilitasi hubungan yang lebih dalam dengan para remaja.

“Kami berharap agar laporan penelitian Generasi Terbuka ini dapat menjadi referensi bagi semua pihak yang peduli akan generasi remaja khususnya gereja, sekolah, dan organisasi-organisasi parachurch untuk melakukan pendampingan dan melibatkan kaum remaja secara tepat.”

Romo Frans Kristi Adi Prasetya Pr, Komisi Kepemudaan KWI mengatakan, “Orang muda jarang didengarkan. Namun Gereja Katolik tidak pernah meninggalkan anak muda nominal, justru ini menjadi pekerjaan rumah bagi gereja untuk menyapa anak-anak Kristen nominal. Penelitian ini menurut saya memandang bahwa Kekristenan tidak hanya berfokus pada iman dan peribadatan, tapi juga cara hidup dan kesaksian. Anak-anak muda ini bersifat solid dan solider, artinya mereka cintanya mendalam kepada Tuhan dan gereja, tapi juga meluas kepada sesama. Sehingga bisa ada dikotomi apakah mereka merasa bahwa cukup melayani, atau cukup memperjuangkan keadilan sosial.”

Pdt Gomar Gultom, M.Th, Ketua Umum PGI “Gereja saat ini banyak yang memiliki program remaja. Tapi masih bersifat asumtif. Karena itu, kita perlu melakukan tindakan lanjutan dari penelitian Barna ini dengan melakukan analisis sosial di tingkat lokal untuk tahu dimana posisi kita saat ini. Selain itu, cara untuk mendekati anak muda juga harus berbeda, tidak dengan khotbah, tapi melalui permainan, role play, dan bercerita.”

Pdt Jason Balompapueng, MBA, MSC, Ketua Umum PGPI menambahkan bahwa remaja adalah masa depan bangsa. “Remaja jangan hanya dijadikan obyek penelitian saja. Harus ada sinergi antara gereja, orang tua, sekolah dan lingkungan tempat ia tinggal untuk mengajak remaja berjalan bersama-sama menjadi pemimpin negara dan pemimpin gereja di masa depan.”

Lebih lanjut di dalam penelitian, 72% remaja Kristen di Indonesia menganggap Alkitab adalah Firman Tuhan dan 51% mengakses dan menggunakan Alkitab melalui aplikasi ponsel. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan remaja di dunia (25%) yang secara umum lebih memilih menggunakan Alkitab dalam bentuk cetak. Remaja mengharapkan pendampingan pendalaman Alkitab di kelompok-kelompok kecil dan tempat belajar Alkitab.

Pdt. Dr. Ronny Mandang, M.Th, Ketua Umum PGLII mengatakan bahwa remaja hari ini adalah produk dari sebuah keluarga, “Anak-anak usia 13-18 tahun membutuhkan role model, jika idolanya bukan orang tuanya atau pemimpin gerejanya akan bahaya. Tidak bisa hanya menaruh tanggung jawab gereja seminggu sekali 2 jam dan remaja jadi baik. Peran orangtua sama dengan guru, baik di sekolah, di gereja, di rumah.”

David Vidyatama, S.Si menjelaskan bagaimana Gabungan Gereja Baptis Indonesia memanfaatkan media digital bagi remaja untuk sharing pelayanan, kehidupan dan Alkitab serta menyanyikan lagu hymne dengan doktrin Alkitab di dalamnya dengan aransemen yang lebih modern.

“Kurikulum sekolah minggu berfokus pada anak dan remaja, jadi pengajaran untuk orang tua dan dewasa muda diarahkan untuk memperkuat keluarga.”

Bagi Letnan Jembris F. Hohoy, M. Th, Sekretaris Orang Muda & Anak – Bala Keselamatan yang terpenting adalah memperlihatkan buah pelayanan melalui keadaan dan eksistensi setiap hari, “Keteladanan dan pengaruh spiritual adalah sesuatu yang dirasakan, terlepas dari Alkitab digital atau cetak. Keberadaan hamba Tuhan dan gereja dengan pengaruh spiritual, remaja akan merasakan. Orang yang tahu Alkitab dan menghidupinya, pasti pengaruhnya dapat dirasakan”

Sekali lagi ditekankan pentingnya orang tua sebagai role model oleh Pdt Rindu Hutapea dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Beliau menegaskan jika orang tua tidak baca Alkitab, anak juga tidak akan baca Alkitab, “Bagaimana mengajarkan anak-anak menerapkan apa yang mereka baca, bagaimana mereka menghidupkannya sangat penting, jadi bukan hanya ilmu pengetahuan saja.”

Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana remaja peduli terhadap isu–isu sosial. Sebanyak 42% anak-anak remaja di Indonesia merasa korupsi merupakan isu publik yang menjadi perhatian terbesar mereka, diikuti oleh pengangguran (39%), pelecehan seksual (38%) dan kemiskinan ekstrem (35%).

Di akhir acara peluncuran Global Teens Study: The Open Generation dihasilkan beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan gereja dan parachurch untuk mendampingi remaja. Rekomendasi tersebut antara lain:

1. Gereja, Parachurch dan sekolah mengalokasikan dana dan sumber daya pendamping yang memadai bagi remaja, antara lain untuk memahami Alkitab secara utuh, dengan Bahasa yang dipahami remaja, dengan pendekatan yang tepat untuk remaja.

2. Gereja, Parachurch dan sekolah melakukan riset lanjutan di tingkat lokal/membuat instrumen kerja terkait temuan hasil survey untuk mendapatkan masukan terhadap program-program gereja, parachurch dan sekolah yang mampu menjawab kebutuhan anak remaja.

3. Gereja, parachurch dan sekolah menjadi teladan dalam upaya menangani keadilan dan melibatkan remaja dalam upaya menangani keadilan tersebut bekerjasama dengan pemerintah dan kementrian serta Lembaga terkait.

4. Gereja, parachurch dan sekolah membangun literasi digital sehingga dapat mengoptimalkan keberadaan teknologi untuk menjangkau remaja dan memuridkan remaja.

5. Gereja, parachurch dan sekolah mengkapasitasi orangtua untuk mendampingi spiritualitas anak remaja (13-17 tahun) dalam komitmen kepada Yesus Kristus, sehingga tidak sekedar menjadi remaja kristen nominal semata. Melalui metode bercerita dan bermain, camping dan campaign yang sesuai dengan kebutuhan iman remaja.

6. Gereja, parachurch dan sekolah mensinergikan seluruh langkah-langkah strategis dan kolaboratif diatas melalui program kerjasama yang terintregasi sehingga menjangkau dan berdampak lebih luas kepada remaja.

Sebagai penutup sekaligus ajakan yang menyemangati dalam optimisme moderator acara talk show Dr. Anil Dawan M.Th (Faith and Development Manajer WVI) mengajak semua peserta untuk mengingat kembali bahwa muda bisa menjadi teladan dalam sebuah lagu berjudul “Muda yang Menjadi Teladan”, terinspirasi dari Nasehat Rasul Paulus kepada Timotius “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (I Tim 4:12).

Hasil Penelitian bisa di unduh melalui link berikut ini: https://parachurch.id/barna-research
—————–

Tentang Survei Generasi Terbuka

Penelitian ini dilakukan di 26 negara dengan jumlah responden 25.000 remaja berusia 13-17 tahun. Khusus Indonesia, penelitian dilakukan kepada 1.000 responden remaja dari seluruh Indonesia menggunakan metode kuantitatif dilanjutkan dengan pendalaman terhadap perwakilan puluhan remaja dengan metode kualitatif. Temuan utama dari penelitian ini adalah remaja memiliki karakteristik yang terbuka, mereka sangat inklusif, mencari kebenaran, keaslian dan perubahan.

Survei “Generasi Terbuka” dikembangkan dan dilakukan oleh Barna Group pada tahun 2021 dan diluncurkan secara global pada Oktober 2022, bekerjasama dengan Alpha, Biblica, dan World Vision, dengan dukungan dari Christian Vision, Bible Study Fellowship, Christ in Youth, dan Association of Christian Schools International.

Tentang Wahana Visi Indonesia

Wahana Visi Indonesia (WVI) adalah organisasi kemanusiaan Kristen yang hadir melayani dan berkolaborasi dalam pemberdayaan anak, keluarga dan masyarakat yang paling rentan melalui pendekatan pengembangan masyarakat, advokasi dan tanggap bencana untuk membawa perubahan yang berkesinambungan tanpa membedakan agama, ras, suku, dan gender. Lebih dari 20 tahun, Wahana Visi Indonesia telah menjalankan program pengembangan masyarakat yang berfokus pada anak. Jutaan anak di Indonesia telah merasakan manfaat program pendampingan WVI.

****

(Hotben)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Motor Listrik Yadea Masuk Indonesia, Bakal Hadir Di IIMS 2023 Dengan Line-Up Produk Unggulannya

Post Views: 3 Jakarta, Cosmopolitanpost.com Jakarta, 4 Februari