Ustaz Zulkifli Memandang Buku Karya KH. Fahmi Salim “HAJI” Tidak Hanya Relevan Bagi Mereka Yang Sedang Mempelajari Persoalan Haji, Tetapi Juga Dapat Menjadi Bahan Refleksi Bagi Masyarakat Yang Menuaikan Ibadah Haji
Jakarta, – Peluncuran dan bedah buku “HAJI: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan” karya KH. Fahmi Salim, Lc., M.A., mendapat perhatian dari Ustaz Zulkifli Muhammad Ali. Menurutnya, buku tersebut memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan berbagai buku tentang ibadah haji yang telah beredar sebelumnya, Senin (28/9/2026).
Ustaz Zulkifli mengungkapkan, dirinya pertama kali menerima buku tersebut sekitar tiga minggu sebelum acara peluncuran dan bedah buku. Ketertarikannya muncul ketika melihat judul yang menghubungkan perjalanan haji dengan pemurnian misi kenabian hingga revolusi kebangkitan.
“Awalnya buku ini sampai di tangan kami lebih kurang tiga minggu yang lalu. Masalah haji sebenarnya sudah banyak dibahas dan ditulis di mana-mana. Tetapi ketika dilanjutkan dengan tema dari pemurnian kenabian ke revolusi kebangkitan, isinya ada yang berbeda,” ujar Ustaz Zulkifli.
Rasa penasaran tersebut kemudian mendorong dirinya untuk membaca daftar isi dan memahami lebih jauh gagasan yang dibangun KH. Fahmi Salim dalam buku tersebut.
Ia menilai perbedaan buku ini terlihat dari cara penulis menggambarkan perjalanan sejarah haji, mulai dari Nabi Ibrahim hingga perkembangan pelaksanaan ibadah haji saat ini.
“Perbedaannya sangat ketara. Buku ini menggiring perjalanan dari Nabi Ibrahim sampai sekarang. Memang ajaran ibadah haji secara fikih dimulai dari Nabi Ibrahim, tetapi ada pesan-pesan yang bermuatan dan berkapasitas sangat padat di dalamnya,” jelasnya.
Menurut Ustaz Zulkifli, pesan utama yang ditawarkan buku tersebut tidak berhenti pada aspek ritual dan fikih semata. Ibadah haji dipandang sebagai momentum untuk mengembalikan manusia kepada jati dirinya sebagai hamba yang bertauhid kepada Allah SWT.
Dari pemurnian tauhid tersebut, menurutnya, kemudian lahir proses transformasi manusia melalui revolusi jiwa dan revolusi kepribadian.
“Manusia ditempatkan untuk memurnikan jati dirinya sebagai ahli tauhid kepada Allah. Setelah itu diikhtiarkan kepada revolusi jiwa, revolusi kepribadian, menjadi pribadi yang berakhlak, pribadi yang agung, santun, kuat dan perkasa,” katanya.
Ia melanjutkan, transformasi tersebut pada akhirnya diharapkan mampu melahirkan manusia yang memiliki pemikiran kuat dan kokoh, bermanfaat bagi sesama, serta mampu berkontribusi terhadap kehidupan sosial dan peradaban.
“Diangkat pemikirannya sehingga muncul manusia kuat dan kokoh, manusia yang bermanfaat, manusia yang akan menyatukan umat kepada poros utama menuju perdamaian dunia secara global,” ungkapnya.
Karena itu, Ustaz Zulkifli memandang buku karya KH. Fahmi Salim tersebut tidak hanya relevan bagi mereka yang sedang mempelajari persoalan haji, tetapi juga dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat yang akan melaksanakan maupun yang telah menunaikan ibadah haji.
Ia berharap jamaah tidak memandang haji hanya sebagai rangkaian ritual yang selesai ketika seluruh prosesi ibadah berakhir. Lebih jauh, haji diharapkan memberikan perubahan nyata dalam diri seseorang setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Buku ini seharusnya menjadi referensi yang dimiliki dan dibaca, atau menjadi buku teguran bagi mereka yang berangkat haji maupun yang sudah pulang dari haji. Ada yang harus mereka terima, ada yang harus mereka dapatkan, dan ada yang harus mereka pahami dari muatan haji ini,” tuturnya.
Ustaz Zulkifli menegaskan, pesan haji yang ditawarkan dalam buku tersebut tidak semata-mata ditempatkan dalam perspektif politik ataupun fikih.
Menurutnya, terdapat dimensi yang lebih luas, yakni bagaimana nilai-nilai haji mampu membentuk manusia dan memberikan kontribusi terhadap perubahan kehidupan.
“Ini bukan hanya sekadar ibadah yang bernuansa politik, bukan ibadah yang bernuansa fikih semata, tetapi ibadah yang mengantarkan kepada revolusi peradaban,” pungkasnya.
Melalui buku “HAJI: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan”, KH. Fahmi Salim mengajak pembaca melihat ibadah haji dalam perspektif yang lebih luas: dari perjalanan spiritual dan pemurnian tauhid, menuju pembentukan pribadi, kekuatan umat, hingga kontribusi terhadap kehidupan dan perdamaian dunia.











