Kisah Sukses Eridal Brand Dal Songket, Harga Songket Tembus Rp 20 Juta Per Helai Buktikan Tenun Pandai Sikek Tak Lekang oleh Zaman
Jakarta, Cosmopolitanpost.com
Di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tenun songket bukan sekadar warisan turun-temurun. Ia adalah nadi ekonomi yang menghidupi ratusan keluarga. Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan perilaku pasar, nama Eridal dan brand Dal Songket menjelma sebagai salah satu bukti bahwa songket Pandai Sikek—dengan segala kerumitan dan nilai budayanya—tetap mampu bersaing di kelas premium, bahkan menembus harga Rp 20 juta per helai.
Perjalanan Eridal dimulai dari upah Rp 5.000 pada 1983. Kini, di usia yang terus beranjak, ia tak hanya menjadi pengrajin, tetapi juga kurator kualitas dan pelaku usaha yang cerdas membaca arus zaman. Kisahnya menjadi inspirasi bagi sekitar 800 pengrajin yang masih bertahan di nagari yang dikenal sebagai sentra tenun terkemuka di Sumatera Barat ini.
KKI 2026: Panggung Kolaborasi untuk UMKM Bangkit dan Berdaya Saing
Kisah Eridal dan Dal Songket sejalan dengan semangat nasional mengangkat UMKM melalui berbagai program strategis. Salah satunya adalah Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, inisiatif tahunan Bank Indonesia yang menjadi panggung selebrasi pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah berskala nasional.
Diselenggarakan pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), KKI 2026 mengangkat tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”. Tema ini diwujudkan melalui sinergi erat bersama 27 Kementerian/Lembaga serta dukungan aktif dari 34 mitra strategis, industri, perbankan, asosiasi, dan masyarakat luas. KKI menjadi manifestasi nyata semangat kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci. “Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya Saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ujarnya.
Tahun ini, KKI 2026 mengangkat semangat “Beudaya Meusare Sare” dari Aceh, yang bermakna Berdaya, Bersama-Sama. Sebanyak 1.850 UMKM berpartisipasi, dengan 550 hadir secara luring dan 1.300 secara daring—meningkat signifikan dibandingkan KKI 2025.
Kisah Sukses Dimulai dari Satu Selendang
Tahun 1983 menjadi titik tolak perjalanan Eridal di dunia tenun. Saat itu, ia membuat satu selendang songket dengan benang 6, ukuran lebar 30 sentimeter dan panjang 160 sentimeter, dengan upah hanya Rp 5.000. Latar belakang pendidikannya hanya sampai kelas 2 SMP, namun hal itu tak menyurutkan tekadnya.
Seperti kebanyakan masyarakat di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Eridal mewarisi kemampuan menenun secara turun-temurun—sebuah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, biasanya dari ibu kepada anak perempuan, sejalan dengan sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau.
“Di Pandai Sikek, kegiatan menenun dilakukan secara turun-temurun. Saya mulai benar-benar serius setelah 2009, ketika mulai membuat dengan modal sendiri,” ujar Eridal.
Keputusan untuk berani mandiri pada 2009 itulah yang menjadi fondasi kesuksesan Dal Songket hingga saat ini. Kini, setelah lebih dari empat dekade bergelut dengan benang dan alat tenun, brand miliknya telah terdaftar paten atau merek resmi—sebuah pencapaian yang mengukuhkan posisinya di industri songket kelas atas.
Strategi Bisnis di Tengah Disrupsi Digital: Dari 25 Menjadi 5 Pengrajin
Di puncak kejayaannya, Eridal mempekerjakan 25 pengrajin langsung pada awal 2025. Namun, memasuki tahun 2026, jumlah itu menyusut drastis menjadi hanya 5 orang.
Penurunan ini bukan karena menurunnya permintaan, melainkan perubahan perilaku pasar yang signifikan. Eridal mengungkapkan bahwa sejak awal 2025, banyak pengrajin di Pandai Sikek yang mulai beralih ke penjualan live streaming atau siaran langsung. Fenomena ini mengubah lanskap ekonomi kreatif di nagari tersebut secara fundamental.
Di tengah perubahan itu, Eridal memilih strategi yang lebih prudent. “Saya lebih suka membeli songket dari pengrajin. Resikonya pun kecil—kalau suka, kami beli; kalau tidak suka, kami tidak ambil,” jelasnya.
Pendekatan spot purchase atau pembelian selektif ini memungkinkan Eridal mengelola likuiditas dengan lebih baik sekaligus memastikan setiap produk yang dijual di bawah brand Dal Songket telah melalui kurasi ketat. Inilah salah satu kunci mengapa harga songketnya mampu bertahan di segmen premium.
Ekonomi Nagari di Balik 800 Alat Tenun
Di balik strategi bisnis Eridal, terdapat ekosistem besar yang melibatkan lebih kurang 800 pengrajin yang masih aktif di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar. Jumlah ini menjadikan sentra tenun sebagai salah satu sektor penyerap tenaga kerja terbesar di kawasan tersebut.
Namun, gelombang live streaming yang melanda sejak 2025 telah menciptakan disrupsi ganda. Di satu sisi, akses pasar menjadi lebih luas dan rantai distribusi memendek. Di sisi lain, banjirnya produk tanpa kurasi berisiko menggerus persepsi nilai songket berkualitas tinggi di mata konsumen.
Di sinilah peran Eridal sebagai penjaga gawang kualitas menjadi krusial. Dengan sistem kurasi yang ketat, songket yang lolos seleksi Dal Songket adalah songket yang layak menyandang harga premium—sebuah mekanisme pasar yang melindungi brand equity di tengah hiruk-pikuk perdagangan digital.
Motif Sirih Gadang: Filosofi dan Harga Selangit
Salah satu produk unggulan Dal Songket yang membuktikan nilai premium adalah motif Tumpal Sirih Gadang. Motif daun sirih ini selalu digunakan untuk sekapur sirih dalam penyambutan tamu kenagarian dan selalu hadir dalam setiap acara adat Minangkabau. Bukan sekadar hiasan, motif ini adalah simbol penghormatan dan identitas budaya yang mengakar.
Harga songket Sirih Gadang dapat menembus angka Rp 20 juta per helai, tergantung pada tingkat kesulitan, bahan baku, serta durasi pengerjaan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Sebagai perbandingan, songket Pandai Sikek dengan benang katun dan motif klasik dijual Rp 2–3 jutaan, sementara yang berbahan sutra dengan motif rumit bisa mencapai Rp 6–10 juta.
Angka Rp 20 juta menjadi bukti bahwa tenun Pandai Sikek—dengan segala kerumitan dan nilai budayanya—tetap dihargai setimpal di pasar kelas atas.
Motif Bada Mudiak: Filsafat Ikan Kecil yang Berenang Searah
Selain Sirih Gadang, motif Inti Bada Mudiak menjadi andalan lain yang tak kalah sarat makna. Nama “Bada” merujuk pada ikan kecil yang hidup di perairan sungai-sungai di Minangkabau. Ciri khas ikan ini adalah kebiasaannya berenang dalam kelompok besar, bergerak serentak dan searah—sebuah pemandangan alam yang menginspirasi lahirnya motif klasik ini.
Secara filosofis, motif Bada Mudiak mengajarkan nilai luhur tentang kebersamaan dan keselarasan. “Bada adalah ikan kecil yang berenang searah. Filosofinya, kita harus berjalan seiya sekata dalam mufakat,” ungkap Eridal.
Makna ini selaras dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi musyawarah dan konsensus dalam setiap pengambilan keputusan, baik dalam lingkup keluarga, nagari, maupun kehidupan berbangsa.
Dalam aplikasinya pada kain songket, motif ini sering menghiasi bagian kepala atau badan kain, menjadi simbol pengingat bahwa kekuatan komunitas terletak pada kemampuan bergerak bersama dalam harmoni. Harga songket dengan motif Bada Mudiak yang dikerjakan dengan benang emas dan teknik rumit pun dapat menyentuh angka yang sebanding dengan motif Sirih Gadang, mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah.
Warisan Budaya yang Diakui Dunia: Indikasi Geografis dari DJKI Kemenkum
Songket Pandai Sikek bukan sekadar komoditas. Kain tenun dari Kabupaten Tanah Datar ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2021. Lebih dari itu, Songket Pandai Sikek telah resmi mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Proses pendaftaran yang dimulai sejak Oktober 2021 ini akhirnya membuahkan hasil pada tahun 2024, memberikan perlindungan hukum yang kuat bagi keaslian dan kekhasan songket Pandai Sikek.
Sertifikat Indikasi Geografis ini menjadi pengakuan resmi bahwa kualitas dan keunikan Songket Pandai Sikek hanya dapat diciptakan dari daerah dengan sumber daya alam, sumber daya manusia, serta tradisi turun-temurun yang khas di Nagari Pandai Sikek. Keberadaan IG ini juga menjadi aset penting untuk menyejahterakan masyarakat dan meningkatkan daya saing produk di pasar global.
Kerumitan teknik menenun menjadi pembeda utama. Eridal, yang juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Peduli Indikasi Geografis Songket Pandai Sikek (MPIG), menjelaskan bahwa pendesain menerapkan teknik cucuk dan sesangkak—kedua teknik ini menuntut ketelitian tinggi saat menyusun benang lungsi dan pakan.
“Urutan benang harus tepat, hitungan helainya tidak boleh keliru, dan pola pun harus dihafal sepenuhnya tanpa bantuan alat modern. Satu kesalahan kecil saja dapat merusak keseluruhan komposisi motif, sehingga keterampilan ini hanya dapat dikuasai melalui latihan panjang bertahun-tahun,” ujar Eridal.
Jejak Digital Eridal dan Dal Songket
Untuk mengenal lebih dekat perjalanan Eridal dan koleksi songket Pandai Sikek, masyarakat dapat mengikuti akun media sosial resmi beliau:
· TikTok: @eridal4
· Instagram: @eri.dal
Melalui kanal-kanal ini, Eridal aktif membagikan proses kreatif pembuatan songket, filosofi di balik setiap motif, serta berbagai kegiatan yang melestarikan warisan tenun Pandai Sikek.
Tantangan Regenerasi dan Masa Depan Songket Pandai Sikek
Dengan 800 pengrajin yang tersisa di Nagari Pandai Sikek, tantangan regenerasi dan pergeseran pola pemasaran menjadi isu yang tak bisa diabaikan. Banyak pengrajin muda yang lebih tertarik pada penjualan live streaming ketimbang produksi langsung—sebuah fenomena yang mengubah rantai nilai ekonomi kreatif di daerah tersebut.
Namun, Eridal tetap optimistis. Dengan merek Dal Songket yang telah terpatenkan dan dukungan Sertifikat Indikasi Geografis, ia berharap dapat terus menjaga kualitas dan keaslian songket Pandai Sikek di tengah gempuran modernisasi. Penjualannya pun masih bertahan di pasar lokal dan nasional, membuktikan bahwa songket bukan sekadar kain, melainkan identitas budaya yang terus hidup.
“Songket Pandai Sikek bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas budaya yang harus terus dikenalkan kepada generasi mendatang,” demikian kesimpulan yang tertuang dalam berbagai kajian akademis tentang warisan budaya ini
Dari upah Rp 5.000 di tahun 1983 hingga motif berharga Rp 20 juta di tahun 2026, Eridal dan Dal Songket telah membuktikan bahwa benang-benang emas Pandai Sikek tetap bersinar—dan tak akan pernah lekang oleh zaman. Motif Bada Mudiak mengingatkan kita semua, bahwa di balik setiap helai kain, terkandung pesan tentang kebersamaan, musyawarah, dan kekuatan kolektif yang selama ini menjadi fondasi budaya Minangkabau. Semangat inilah yang juga terus digaungkan melalui KKI 2026: bahwa UMKM yang bangkit, tangguh, dan berdaya saing adalah fondasi bagi ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.











