Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Rakyat Indonesia Baru (DPP GRIB) Jaya menggelar konferensi pers guna mengklarifikasi polemik yang menyeret nama Ketua Umum H. Hercules Rosario de Marshal dengan seorang warga bernama Ahmad Bahar.
Klarifikasi ini dilakukan di Kantor DPP GRIB Jaya, Minggu (24/5/2026) sore, menyusul adanya laporan dari pihak Ahmad Bahar ke Polda Metro Jaya dan Komnas HAM atas dugaan intimidasi. Pihak GRIB Jaya menegaskan bahwa narasi yang beredar di media sosial mengenai penodongan senjata api dan pemaksaan pembukaan kerudung adalah berita bohong.
Dalam keterangannya, Hercules menjelaskan bahwa tindakan anggotanya mendatangi kediaman Ahmad Bahar di Depok merupakan akibat dari adanya rentetan teror dan makian yang dikirimkan oleh Ahmad Bahar ke ponsel istrinya.
“Pertama-tama, kita ceritakan terkait ada api makanya ada asap, ada sebab makanya ada akibat. Yang memulai itu adalah saudara Ahmad Bahar, yang meneror saya dan istri saya lewat HP istri saya,” ujar Hercules di hadapan media.
Menurut Hercules, Ahmad Bahar mengirimkan pesan teks dan video berisi makian kasar yang merendahkan dirinya dan organisasi. Bahkan, Ahmad Bahar disebut sengaja menantang dan membagikan alamat rumahnya agar didatangi oleh pihak GRIB Jaya.
“Dia chat ke HP istri saya menjelek-jelekkan saya, lalu menantang menyuruh datang ke rumahnya. Istri saya meminta alamatnya dan dikirimkan oleh dia. Jadi, kami datang bukan menggeruduk, tapi karena dia yang meminta dan memberikan alamat,” lanjutnya.
Hercules menduga aksi Ahmad Bahar dipicu oleh salah paham terkait pernyataan dirinya di acara ulang tahun GRIB Jaya yang sempat mengingatkan tokoh nasional Amien Rais agar berhati-hati dalam menyampaikan opini tanpa dasar fitnah.
Mengenai tuduhan bahwa anak Ahmad Bahar dibawa secara paksa dan diintimidasi dengan senjata api, Hercules memberikan bantahan keras. Ia menjelaskan, saat anggotanya mendatangi lokasi, Ahmad Bahar melarikan diri, sehingga sang anak dibawa ke kantor DPP GRIB Jaya untuk dimintai klarifikasi dengan didampingi langsung oleh Ketua RW setempat.
“Dia membalikkan fakta seolah-olah menjadi korban. Anaknya dibawa ke sini ditemani Ketua RW, kita perlakukan sangat baik, dikasih makan dan dicarikan obat karena sedang flu. Di sini ada lima staf perempuan saya yang melihat,” kata Hercules.
Terkait ucapan soal kerudung yang menjadi sorotan LBH Muhammadiyah, Hercules yang merupakan seorang mualaf meluruskan bahwa dirinya tidak memaksa membuka jilbab, melainkan memberikan nasihat moral yang keras karena ponsel anak dan bapak tersebut diduga digunakan untuk melakukan teror.
“Saya nasehatin dia, kalau pakai kerudung itu mukanya sering bertatapan dengan air wudhu untuk salat, jangan dipakai HP-nya untuk meneror dan memfitnah orang lain. Jadi berita soal dipaksa buka kerudung dan ditodong senjata itu bohong,” tegas Hercules sembari menyampaikan permohonan maaf kepada umat Muslim atas kegaduhan di media sosial.
Kuasa hukum GRIB Jaya, Niko Kilikily, S.H., M.H., menyayangkan adanya laporan baru ke Polda Metro Jaya dan Komnas HAM. Padahal, pada tanggal 17 Mei 2026 malam, kedua belah pihak sudah sepakat berdamai dan membuat surat pernyataan di Polres Depok.
“Kami sangat sayangkan kenapa dia tidak menghormati kedamaian yang sudah kita ciptakan. Kami menduga ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menunggangi masalah ini,” kata Niko KiliKily yang ikut mengawal proses perdamaian di Depok.
Niko Kilikily juga mengimbau rekan sejawat dari LBH Muhammadiyah yang mendampingi Ahmad Bahar agar melihat perkara ini secara objektif berdasarkan bukti dan saksi, bukan sekadar membangun opini sepihak di media.
“Jangan serta-merta membangun narasi yang membuat gaduh. Kami selaku tim hukum juga telah mengumpulkan bukti-bukti digital dan akan segera membuat laporan polisi terkait fitnah yang disebarkan di media sosial dalam waktu dekat,” tegas Niko.
Di akhir konferensi pers, Hercules mengaku telah berkomunikasi langsung via telepon dengan salah satu tokoh yang dihormatinya, yakni Kyai Haji Ihsan Sulis, untuk meluruskan duduk perkara agar institusi keagamaan seperti Muhammadiyah tidak ikut terseret dalam perseteruan pribadi ini.
“Beliau menyampaikan bahwa Muhammadiyah harus membela yang benar. Dalam waktu dekat kami berencana untuk bertemu, bahkan beliau berniat mempertemukan saya langsung dengan Pak Amien Rais agar semuanya klir dan tidak ada lagi anggapan ada ancaman,” pungkas Hercules.
Pihak GRIB Jaya menyatakan siap menghadapi proses hukum di Polda Metro Jaya demi membuktikan fakta yang sebenarnya berdasarkan bukti-bukti yang mereka miliki.
Penulis: Fadillah, C.BJ
Kabiro Jakarta Pusat.









