Yiyok Herlambang Berharap Museum-Museum Di Indonesia Semakin Adaptif Terhadap Pekembangan Zaman Dengan Memanfaatkan Digitalisasi

banner 468x60

 

 

Jakarta, – Semangat peringatan Internasional Museum Day 2026 dengan tema “Museums Uniting A Divided World” menjadi momentum penting untuk memperkuat peran museum sebagai ruang edukasi, budaya, dan pemersatu masyarakat di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua AMIDA DKI Jakarta, Yiyok T. Herlambang, menegaskan bahwa tantangan museum saat ini tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan koleksi sejarah, tetapi juga bagaimana museum mampu bertransformasi menjadi ruang publik yang menarik, modern, dan relevan bagi generasi masa kini.

Dalam wawancara bersama awak media, Yiyok menyampaikan bahwa terdapat dua aspek besar yang menjadi fokus utama pengembangan museum, yakni sisi internal dan eksternal pengelolaan museum.

Menurutnya, dari sisi internal, pengelolaan museum harus memperhatikan kelembagaan, standarisasi, serta sertifikasi sumber daya manusia (SDM). Standarisasi tersebut mencakup pengelolaan keseluruhan museum, mulai dari gedung, visi dan misi, koleksi, hingga sarana dan infrastruktur pendukung.

“Kalau ngomong standarisasi berarti bicara soal pengelolaan museum secara keseluruhan, mulai dari gedungnya, visi misinya, koleksinya, sampai infrastrukturnya,” ujar Yiyok.

Ia juga menjelaskan bahwa museum membutuhkan SDM profesional yang tersertifikasi dalam berbagai bidang. Terdapat enam skema profesi museum yang harus dipersiapkan oleh pengelola, di antaranya kurator, konservator, registrator, edukator, hingga bidang pemasaran museum.

Tak hanya itu, program publik juga menjadi bagian penting agar museum tetap hidup dan mampu menarik minat masyarakat untuk berkunjung.

“Museum itu harus menarik. Tergantung bagaimana pengelola merancang konsep dan koneksi yang dimiliki. Apalagi sekarang ada unsur digitalisasi museum. Koleksi-koleksi kuno harus diterjemahkan dengan bahasa yang kekinian,” tambahnya.

Yiyok mencontohkan keberhasilan digitalisasi di Museum Bank Indonesia yang dinilai mampu menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung melalui teknologi modern dan penyajian interaktif.

Selain pembenahan internal, Yiyok juga menyoroti pentingnya dukungan eksternal dalam pengembangan museum. Menurutnya, museum tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus bersinergi dengan komunitas, akademisi, pemerintah, media, hingga sektor swasta dalam mempromosikan museum kepada masyarakat luas.

Ia menekankan bahwa pengunjung harus menjadi perhatian utama dalam pengembangan museum. Kajian terhadap kebutuhan dan keinginan pengunjung perlu dilakukan agar museum mampu menghadirkan konsep yang sesuai dengan harapan masyarakat.

“Pengunjung itu harus dikaji, kira-kira mereka maunya apa dari museum ini. Dari situ bisa menjadi masukan agar museum terus berkembang dan diminati,” ungkapnya.

Melalui momentum Internasional Museum Day 2026 ini, diharapkan museum-museum di Indonesia semakin adaptif terhadap perkembangan zaman, memanfaatkan digitalisasi, serta mampu menjadi ruang edukasi dan budaya yang inklusif dalam menyatukan masyarakat di tengah keberagaman dunia.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *