Jakarta, Cosmopolitanpost.com
Jakarta, 19 Mei 2026 – PT Armada Berjaya Trans Tbk mencatat pendapatan usaha Rp 73,90 milyar tahun 2025 turun dari Rp 100,70 milyar pada tahun lalu atau sebesar 26,62%.
Sementara laba kotor pun turun dari Rp 34,01 milyar menjadi Rp 33,28 milyar.
Berbanding terbalik, perusahaan justru memperbesar ekspansi aset dan utang secara agresif.
Jumlah aset naik menjadi Rp 378,16 milyar di 2025 dari sebelumnya Rp 219,99 dan jumlah liabilitas naik signifikan menjadi Rp 253,87 milyar di 2025 dari Rp 96,18 milyar ditahun sebelumnya.
Darmawan Suryadi, Direktur Utama JAYA mengatakan penurunan pendapatan berdampak langsung pada laba perusahaan dalam Paparan Publik yang dilaksanakan secara daring di Jakarta (19/5/26).
“Persoalan utama bukan pada lemahnya penjualan, dalam laporan kinerja perusahaan, tekanan justru datang dari sisi pembiayaan, dimana beban bunga melonjak tajam menjadi Rp 5,86 milyar atau naik sebesar 82,96%,” kata Darmawan.
Kenaikan biaya bunga yang besar biasanya menjadi sinyal klasik bahwa ekspansi perusahaan mulai bertumpu pada leverage yang cukup tinggi.
Sementara dalam industri transportasi, pola semacam ini kerap muncul ketika perusahaan buru-buru memperbesar armada saat permintaan pasar belum sepenuhnya pulih. Situasi ini sering dibaca sebagai fase “bertaruh pada pertumbuhan”.
Perusahaan memperbesar kapasitas sekarang dengan harapan volume bisnis beberapa tahun mendatang mampu menutup beban utang hari ini.
Perseroan memang sedang memperluas lini usaha, selain menambah armada, JAYA membentuk PT Jaya Bae Nusantara dan PT Prima Bae Nusantara di sektor angkutan.
Perusahaan juga masuk ke bisnis kendaraan bekas melalui PT Maju Bae Makmur dan memperluas sektor properti lewat PT Aman Bae Jaya.
Anak usaha PT Aman Bae Sentosa tercatat memiliki 11 villa dan dua bidang tanah di Bali, dan PT Aman Bae Perkasa mengembangkan proyek Perumahan Sindang Mulya Cibarusah di Kabupaten Bekasi.
Diversifikasi ini memperlihatkan tidak lagi hanya mengandalkan bisnis transportasi.
Namun tantangan terbesar perseroan ke depan adalah memastikan ekspansi tersebut benar-benar menghasilkan arus kas baru, bukan sekadar memperbesar beban pembiayaan.
[Red-Hendra]











