JSN Sukses Lepasliarkan Tujuh Merak Hijau ke Pulau Handaleum, Taman Nasional Ujung Kulon

banner 468x60

Jakarta, Cosmopolitanpost.com

Jakarta, 6 November 2026 – Jagat Satwa Nusantara (JSN) melanjutkan rangkaian program konservasi Merak Hijau (Pavo muticus) dengan pelaksanaan pelepasliaran di Pulau Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon, pada Kamis, 5 November 2026.

Tahap ini menjadi kelanjutan dari pemberangkatan tujuh individu Merak Hijau, yang terdiri atas dua jantan dan lima betina, dari Jagat Satwa Nusantara menuju kawasan Taman Nasional Ujung Kulon pada 3 November 2026.

Kegiatan ini menjadi langkah nyata JSN dalam menghubungkan keberhasilan pengembangbiakan satwa di lembaga konservasi dengan upaya pelestarian spesies di habitat alaminya.

Jalani Masa Habituasi Sebelum Dilepasliarkan

Sebelum dilepasliarkan, ketujuh Merak Hijau menjalani masa habituasi selama tiga hari untuk mengenali kondisi lingkungan barunya, termasuk vegetasi, sumber pakan alami, dan karakteristik habitat.

Proses ini melengkapi tahapan rehabilitasi perilaku yang sebelumnya dilakukan di Jagat Satwa Nusantara, meliputi pengenalan pakan alami, pengayaan lingkungan, serta pemantauan aktivitas sebagai persiapan menuju kehidupan di alam.

Pada fase awal pelepasliaran, tim JSN mencatat sejumlah perilaku alami yang mulai ditunjukkan Merak Hijau, antara lain mengonsumsi pucuk daun beringin, mencari dan memakan semut, serta melakukan vokalisasi.

Temuan ini menjadi catatan awal yang penting dalam mengamati respons satwa terhadap habitat barunya. Meski demikian, keberhasilan adaptasi tetap memerlukan pemantauan berkelanjutan terhadap perilaku, kemampuan memperoleh pakan, kondisi fisik, serta keberadaan masing-masing individu.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Dedi Juherdi, S.Hut., M.H., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program tersebut.

“Dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026, kami menyambut baik pelepasliaran tujuh individu Merak Hijau hasil pengembangbiakan Jagat Satwa Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah. Harapannya, satwa ini dapat beradaptasi dan berkembang biak secara alami, sekaligus menjadikan Pulau Handeuleum sebagai salah satu lokasi wisata edukasi konservasi, dengan tetap mengutamakan perlindungan satwa dan habitatnya. Terima kasih kepada Jagat Satwa Nusantara dan BKSDA Jakarta atas kerja sama
dan dukungannya dalam kegiatan ini,” ungkap Dedi dalam keterangan tertulisnya.

Merak Hijau merupakan satwa dilindungi di Indonesia dengan status Endangered (EN) atau terancam punah berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature
(IUCN).

Kondisi ini menegaskan pentingnya upaya konservasi yang tidak hanya berfokus pada pengembangbiakan, tetapi juga mendukung keberlangsungan spesies di habitat alaminya.

Sebagai bagian dari persiapan pelepasliaran, tim JSN bersama pengelola kawasan sebelumnya telah melakukan survei kesesuaian habitat di Pulau Handeuleum, dengan memperhatikan kondisi lingkungan, ketersediaan pakan alami, serta sumber air.

Tahapan tersebut menjadi bagian dari pendekatan konservasi berbasis ilmu pengetahuan (science based conservation) yang diterapkan JSN, mulai dari pengembangbiakan, persiapan perilaku, evaluasi habitat, hingga monitoring pasca pelepasliaran.

Komitmen JSN Aksi Konservasi Nyata untuk Keanekaragaman Hayati Indonesia

Bertepatan dengan peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada 5 November 2026, program ini sekaligus menegaskan peran Jagat Satwa Nusantara sebagai lembaga konservasi yang mengintegrasikan pengelolaan satwa secara ex situ dengan upaya konservasi in situ.

Melalui pendekatan tersebut, JSN berkomitmen untuk tidak hanya menghadirkan edukasi mengenai keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga berkontribusi melalui aksi konservasi nyata yang terukur dan berkelanjutan.

Program ini terlaksana melalui kolaborasi Jagat Satwa Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, BKSDA Jakarta, Balai Taman Nasional Ujung Kulon, balé by BTN, serta berbagai mitra pendukung.

Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan konservasi satwa secara terencana dan bertanggung jawab.

Bagi Jagat Satwa Nusantara, pelepasliaran bukanlah akhir dari proses konservasi. Pemantauan dan evaluasi terhadap ketujuh Merak Hijau akan menjadi langkah berikutnya untuk mengetahui perkembangan adaptasi satwa sekaligus menghasilkan data yang dapat mendukung pengembangan program konservasi Merak Hijau di masa mendatang.

[Red-Hendra]

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *