Jakarta, Cosmopolitanpost.com
Jakarta, 5 November 2026 – Kepergian Drs. H. Zulfikar Achmad, mantan Bupati Bungo dua periode sekaligus anggota DPR RI dari Partai Demokrat, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Namun, di balik kehilangan tersebut, tersimpan berbagai pesan dan nilai kehidupan yang terus diingat oleh putranya, Andriansyah Achmad.
Andriansyah Achmad, yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Muara Bungo, mengungkapkan bahwa banyak pelajaran berharga yang diperolehnya dari sang ayah. Nilai-nilai tersebut bahkan baru benar-benar ia pahami setelah menjalani perjalanan hidup dan pengabdiannya sendiri di tengah masyarakat.
Dalam pernyataannya, Andriansyah juga berbicara mengenai masa depan pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia di Provinsi Jambi. Menurutnya, Jambi masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan jumlah masyarakat berpendidikan tinggi.
Ia menilai Provinsi Jambi masih tertinggal dalam menghasilkan lulusan sarjana dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sumatera. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama agar generasi muda memiliki kesempatan lebih luas untuk berkembang.
Andriansyah mengaku pernah berada dalam lingkungan politik. Namun, seiring perjalanan waktu, ia memutuskan mengalihkan perhatian dan pengabdiannya ke dunia pendidikan.
“Saya beralih, tadinya di politik, akhirnya ingin menjadi praktisi dan akademisi saja. Lebih baik saya mendidik generasi muda agar memahami situasi Jambi seperti apa dan bagaimana kondisi daerah lain,” ungkapnya.
Ia berpandangan bahwa pola pikir generasi muda dalam menentukan masa depan pekerjaan perlu diperluas. Selama ini, masih banyak orang tua yang mengarahkan anaknya untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS), sehingga pilihan pendidikan sering kali hanya berorientasi pada profesi tertentu, seperti guru.
Padahal, menurut Andriansyah, kebutuhan tenaga kerja dan perkembangan dunia pendidikan terus berubah. Karena itu, generasi muda harus memiliki ide, kreativitas, serta kemampuan menciptakan peluang sendiri.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun identitas dan kemampuan diri atau personal branding agar generasi muda tidak hanya bergantung pada peluang pekerjaan formal.
“Bagaimana pertanian dan peternakan di sana bisa dibangun. Sekarang ini memang tidak mudah. Mau membuat peternakan membutuhkan biaya besar, begitu juga membuat pakan ikan. Saya berusaha mencoba mengembangkan hal tersebut di Muara Bungo. Siapa tahu bisa menjadi peluang,” tuturnya.
Selain pendidikan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, Andriansyah turut menyinggung persoalan lingkungan akibat aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Jambi.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya melalui penelitian kampus telah mengkaji dampak aktivitas penambangan liar, termasuk potensi pencemaran merkuri. Hasil penelitian tersebut, menurutnya, telah disampaikan kepada Komisi XII DPR RI untuk menjadi perhatian.
Andriansyah menjelaskan, penggunaan merkuri dalam aktivitas pengolahan emas menjadi persoalan serius karena berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan membahayakan masyarakat.
Padahal, menurutnya, terdapat metode pengolahan emas yang tidak harus menggunakan merkuri. Namun, sebagian masyarakat masih memilih cara tersebut karena dianggap lebih cepat menghasilkan keuntungan.
Ia menilai persoalan ini membutuhkan edukasi, kesadaran lingkungan, serta solusi alternatif agar masyarakat tetap dapat memperoleh penghasilan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Andriansyah juga mengenang bagaimana sang ayah memberikan pendidikan kehidupan secara tidak langsung. Ada sejumlah sikap dan pesan yang dahulu mungkin belum sepenuhnya ia pahami, tetapi kini justru menjadi pelajaran penting.
“Dulu saya marah. Sekarang saya justru berpikir, ya Allah, ternyata ini maksud Bapak. Saya mendapatkan banyak hal dari apa yang beliau ajarkan secara tidak langsung,” ungkapnya dengan nada haru.
Ia mengaku sempat kesulitan menahan emosi ketika mengenang berbagai pengalaman dan nasihat sang ayah. Baginya, kepergian Zulfikar Achmad bukan hanya kehilangan seorang ayah, tetapi juga sosok yang memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan, pengabdian, dan cara menghadapi persoalan masyarakat.
Andriansyah juga mengingat pengalaman keterlibatannya dalam dinamika politik pada 1998 sebagai bagian dari pembelajaran kehidupan. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami pentingnya mengambil sikap secara bijaksana dalam menghadapi perubahan situasi.
Saat ini, ia memilih lebih berkonsentrasi pada dunia pendidikan dan menjaga agar mahasiswa tidak terseret dalam dinamika yang justru dapat mengganggu masa depan mereka.
Menurutnya, mahasiswa sebaiknya memanfaatkan masa pendidikan untuk mengembangkan kapasitas diri, membangun karakter, serta mempersiapkan kemampuan menghadapi tantangan setelah menyelesaikan studi.
Baginya, pesan sang ayah tentang pentingnya memiliki niat, keberanian memulai, dan terus berbuat sesuatu menjadi bekal yang akan terus dibawa dalam perjalanan pengabdiannya.
Kepergian Zulfikar Achmad memang meninggalkan ruang kosong bagi keluarga. Namun, nilai-nilai pendidikan, pengalaman, dan pesan kehidupan yang diwariskannya diharapkan dapat terus dilanjutkan melalui kiprah anak-anaknya, khususnya dalam membangun sumber daya manusia dan masa depan masyarakat Jambi.











