Yayang Ruzaldy ; “Transformasi Menuju Ekonomi Hijau Membutuhkan Sumber Daya Manusia Yang Memahami Hubungan Antara Lingkungan, Teknologi, Inovasi Dan Ekonomi”

banner 468x60

Yayang Ruzaldy ; “Transformasi Menuju Ekonomi Hijau Membutuhkan Sumber Daya Manusia Yang Memahami Hubungan Antara Lingkungan, Teknologi, Inovasi Dan Ekonomi”

Jakarta, – Pendidikan tidak lagi cukup hanya berorientasi pada kecerdasan akademik. Di tengah tantangan perubahan iklim, persoalan lingkungan, dan kebutuhan transformasi ekonomi, generasi muda Indonesia perlu dibekali pemahaman tentang keberlanjutan sejak dini.

Konsep Green Education dinilai menjadi salah satu pendekatan penting untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, produktif, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Yayang Ruzaldy, Vice President PT ESG-IN Global Partners, saat diwawancarai awak media. Menurutnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menjadi motor penggerak pembangunan dan perekonomian.

“Kalau kita melihat bagaimana bangsa Indonesia akan tumbuh dan berkembang di masa yang akan datang, hampir 50 persen penduduk Indonesia adalah kaum muda atau kelompok usia produktif. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang,” ujar Yayang.

Ia menegaskan, besarnya populasi usia muda harus diikuti dengan strategi pengembangan sumber daya manusia yang tepat. Generasi muda tidak hanya harus memiliki kompetensi, tetapi juga harus memahami tantangan pembangunan berkelanjutan.

“Kita harus mampu menumbuhkembangkan generasi muda sehingga bisa menjadi motor perekonomian di masa yang akan datang, terutama dalam rangka kita menyambut Indonesia Emas 2045,” katanya.

Lingkungan Bukan Lagi Sekadar Isu

Yayang menilai, isu lingkungan saat ini telah mengalami perubahan paradigma. Jika sebelumnya persoalan lingkungan lebih banyak dipandang sebagai kewajiban atau tanggung jawab sosial, kini aspek lingkungan telah berkembang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi.

“Isu lingkungan itu tidak hanya menjadi isu yang sifatnya sekadar memenuhi kewajiban tindakan lingkungan. Hari ini isu lingkungan sudah memiliki dimensi baru, yaitu menjadi salah satu motor perekonomian baru,” jelasnya.

Menurut Yayang, perubahan tersebut sejalan dengan perkembangan komitmen global terhadap pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi. Indonesia juga telah mengambil bagian dalam komitmen internasional melalui ratifikasi Paris Agreement serta membangun kerangka kebijakan terkait pengendalian emisi dan nilai ekonomi karbon.

Dalam konteks tersebut, konsep Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dinilai dapat menjadi instrumen yang mendorong aktivitas perlindungan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

“Artinya, nilai ekonomi karbon itu adalah sistem perekonomian baru yang menempatkan aksi investasi lingkungan untuk menjadi mesin ekonomi baru yang bisa membuka peluang ekonomi baru,” ungkapnya.

Green Education Jadi Investasi Generasi Masa Depan

Menurutnya, transformasi menuju ekonomi hijau membutuhkan sumber daya manusia yang memahami hubungan antara lingkungan, teknologi, inovasi, dan ekonomi.

Karena itu, pendidikan lingkungan tidak seharusnya berhenti pada teori mengenai menjaga kebersihan atau menanam pohon. Green Education perlu diarahkan untuk membangun pola pikir bahwa menjaga lingkungan juga dapat melahirkan inovasi, lapangan pekerjaan, kewirausahaan, serta sumber pertumbuhan ekonomi baru.

“Dalam konteks sampah, ini menjadi salah satu bagian yang sangat penting. Sampah jangan hanya dilihat sebagai persoalan yang harus dibuang, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem ekonomi dari pengelolaan sampah tersebut,” tuturnya.

Ia menambahkan, generasi muda perlu diperkenalkan dengan pendekatan ekonomi sirkular, pengelolaan sampah berbasis teknologi, energi bersih, efisiensi sumber daya, hingga peluang usaha berbasis lingkungan.

Dengan demikian, Green Education diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pencipta solusi atas berbagai persoalan lingkungan.

Dari Kepedulian Menjadi Kekuatan Ekonomi

Yayang berpandangan bahwa pendidikan hijau harus mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti pada kampanye, tetapi harus diterjemahkan menjadi aksi nyata dan inovasi yang memberikan manfaat sosial maupun ekonomi.

“Yang kita bangun bukan hanya kesadaran terhadap lingkungan, tetapi bagaimana generasi muda mampu melihat bahwa persoalan lingkungan juga memiliki peluang ekonomi,” ujarnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dapat semakin diperkuat untuk menciptakan ekosistem Green Education di Indonesia.

Menurutnya, investasi terbesar menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia yang memiliki karakter, kompetensi, kreativitas, dan kesadaran terhadap keberlanjutan.

Green Education pada akhirnya diharapkan menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang inovasi dan pertumbuhan ekonomi.

Generasi cerdas, berkarakter, produktif, dan peduli lingkungan menjadi modal penting untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *