WPPKBI Nyatakan Dukungan kepada KOWANI, Siap Perkuat Organisasi Perempuan di Daerah
Jakarta, Gramediapost.com
Wanita Pelopor Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia (WPPKBI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat persatuan organisasi perempuan dengan menyatakan dukungan kepada Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) sebagai induk dan payung organisasi perempuan di Indonesia. Komitmen tersebut disampaikan dalam kunjungan silaturahmi jajaran DPP Pembina WPPKBI ke Kantor KOWANI, Jakarta pada Rabu, 22 Juli 2026, yang dihadiri Ketua DPP Pembina WPPKBI Lis Djamaris, Wakil Ketua Umum Masniar, jajaran pengurus pusat, serta perwakilan 15 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) WPPKBI dari berbagai provinsi.
Kunjungan tersebut menjadi momentum mempererat sinergi sekaligus memperkuat komitmen seluruh jajaran WPPKBI untuk menjaga marwah organisasi perempuan melalui tata kelola yang berlandaskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), mekanisme organisasi yang demokratis, serta semangat persatuan.
Perwakilan DPD WPPKBI yang hadir berasal dari DKI Jakarta, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Banten, Lampung, Aceh, Sumatera Utara, dan sejumlah daerah lainnya. Kehadiran mereka menunjukkan tekad bersama untuk terus menjaga KOWANI sebagai rumah besar organisasi perempuan yang mengedepankan nilai kebersamaan, musyawarah, dan pengabdian kepada bangsa.
Ketua Umum KOWANI sekarang Periode 2024-2029, Nannie Hadi Tjahjanto, menyambut baik kunjungan tersebut dan mengapresiasi semangat WPPKBI dalam menyiapkan regenerasi kepemimpinan organisasi.
“Alhamdulillah, terima kasih atas kesempatan ini. Kami melihat keseriusan organisasi dalam mempersiapkan generasi penerus. Kami juga ingin terus belajar dan berdiskusi mengenai langkah-langkah pembinaan organisasi agar semakin berkembang,” ujar Nannie.
Menurut Nannie, KOWANI sebagai organisasi induk memiliki tanggung jawab untuk terus membina, mengayomi, serta memperkuat organisasi-organisasi anggotanya. Berbagai aspirasi yang disampaikan, kata dia, akan menjadi bahan musyawarah bersama demi memperkuat tata kelola organisasi perempuan di Indonesia.
“KOWANI adalah rumah besar organisasi perempuan. Tugas kami adalah mengayomi, memperkuat koordinasi, dan memberikan dukungan agar setiap organisasi dapat berkembang sesuai tujuan yang telah ditetapkan,” katanya.
Nannie juga menekankan pentingnya regenerasi agar perjuangan organisasi tidak terhenti pada satu generasi saja.
“Sejarah tidak boleh berhenti. Organisasi ini telah dibangun melalui perjuangan panjang. Karena itu anak, cucu, dan generasi muda harus mulai dilibatkan agar estafet kepemimpinan terus berjalan. Perbedaan boleh ada, tetapi jangan sampai mengurangi semangat pengabdian kepada bangsa dan negara,” tegasnya.
Ia juga menyatakan bahwa tahun ini menjadi momentum penting bagi seluruh organisasi perempuan karena KOWANI akan memasuki usia satu abad.
Menurutnya, peringatan 100 tahun KOWANI harus menjadi titik penguatan persatuan seluruh organisasi perempuan di Indonesia.
“Momentum peringatan ini harus bisa menjadi pengingat bahwa kita harus semakin solid. Seluruh organisasi perempuan perlu kembali bersatu untuk menyuarakan semangat Perempuan Support Perempuan dan bersama-sama menyukseskan perjalanan 1 Abad KOWANI,” ujarnya.
Ia menilai perempuan Indonesia memiliki potensi besar dalam berbagai bidang sehingga perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas organisasi.
“Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan. Karena itu, kita perlu terus menyosialisasikan bahwa perempuan memiliki seribu profesi, seribu organisasi, seribu komunitas, dan seribu sertifikasi untuk menjawab seribu solusi,” katanya.
Menurutnya penguatan organisasi perempuan juga merupakan bagian dari upaya mewujudkan Indonesia Emas melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul serta mendukung agenda pembangunan nasional.
“Kita ingin mewujudkan SDM Indonesia yang unggul demi mendukung tercapainya Asta Cita” ujarnya.
“Jadi, mari kita terus bersatu, saling mendukung, dan memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah” ujarnya.
Dengan semangat Perempuan saya yakin perempuan Indonesia akan semakin berdaya dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPP Pembina WPPKBI Lis Djamaris menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan KOWANI. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi penyemangat bagi WPPKBI untuk terus memperkuat organisasi sekaligus menjaga nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu.
“Bagi kami, pertemuan ini merupakan sebuah kehormatan. Arahan dan bimbingan dari KOWANI menjadi motivasi untuk terus memperkuat organisasi dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Lis.
Ia menegaskan bahwa WPPKBI siap mengikuti pembinaan KOWANI demi mewujudkan organisasi yang semakin solid, profesional, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lis berharap hubungan antara WPPKBI dan KOWANI terus terjalin erat sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat gerakan perempuan Indonesia.
“Kami berharap ini menjadi awal dari komunikasi yang terus berkelanjutan, layaknya hubungan antara ibu dan anak yang saling menguatkan dalam membangun organisasi,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum DPP WPPKBI Masniar menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap perjalanan organisasi. Ia juga memberikan penghargaan kepada Ibu Islamis SPT yang dinilai memiliki dedikasi besar dalam menggerakkan WPPKBI.
Masniar mengungkapkan bahwa WPPKBI akan menggelar Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) pada 28 Juli sebagai bagian dari konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat langkah bersama ke depan.
Selain itu, ia berharap WPPKBI suatu hari memiliki sekretariat atau gedung sendiri sebagai pusat aktivitas organisasi.
“Semoga suatu saat nanti kita memiliki kantor bersama yang menjadi pusat kegiatan dan mampu membangkitkan semangat perjuangan seluruh anggota,” ujarnya.
Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi (OKK) KOWANI Atiek Sardjana mengatakan organisasi perempuan harus terus menghadirkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi anggota maupun masyarakat.
Menurutnya, penguatan organisasi juga perlu dibarengi dengan perluasan jaringan serta peningkatan perlindungan sosial, termasuk melalui kepesertaan BPJS bagi para anggota.
“Kegiatan organisasi harus terus hidup. Tidak hanya berkumpul, tetapi juga menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat,” katanya.
Senada dengan itu, Ketua Bidang Sosial, Masyarakat, dan Pendidikan KOWANI yang juga Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ade Zubaedah, menegaskan bahwa KOWANI merupakan rumah besar organisasi perempuan yang memiliki kekuatan besar untuk bersinergi dalam bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, keluarga, hingga dunia kerja.
“Seluruh organisasi yang tergabung di KOWANI memiliki kader dan potensi luar biasa. Sinergi inilah yang akan menjadi kekuatan untuk mewujudkan perempuan Indonesia yang semakin berdaya,” ujarnya.
Sementara itu Ketua umum Wanita Tani Indonesia periode 2015-2020, Onny Jafar Hafsah menegaskan bahwa kepemimpinan organisasi harus memiliki legitimasi yang jelas dan dijalankan sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Menurutnya, seorang ketua umum memikul tanggung jawab besar sehingga harus dipilih melalui mekanisme organisasi yang sah.
“Menjadi ketua umum organisasi bukanlah sesuatu yang mudah. Ada tanggung jawab besar yang harus dijalankan. Seorang ketua umum harus memiliki legitimasi yang jelas, dipilih melalui mekanisme organisasi yang sah, serta menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga,” tegas Onny.
Ia mengingatkan agar tidak muncul pihak-pihak yang mengklaim diri sebagai ketua umum tanpa melalui proses organisasi yang sah.
“Jangan sampai muncul ketua umum abal-abal, yaitu seseorang yang mengklaim dirinya sebagai pimpinan organisasi tanpa proses pemilihan dan legitimasi yang jelas.
Apalagi jika keberadaannya justru menimbulkan persoalan, mengatasnamakan organisasi, atau berpotensi merusak kepercayaan yang telah dibangun oleh organisasi dan para anggotanya,” ujarnya.
Menurut Onny, organisasi tidak boleh dijalankan berdasarkan kepentingan pribadi ataupun klaim sepihak. Seluruh proses organisasi, kata dia, harus memiliki dasar yang jelas serta mengacu pada aturan yang telah disepakati bersama.
“Organisasi tidak boleh dijalankan berdasarkan kepentingan pribadi atau klaim sepihak. Semua harus memiliki dasar yang jelas dan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap pihak-pihak yang mengaku sebagai ketua umum, tetapi tidak memiliki legitimasi organisasi yang sah,” katanya.
Onny juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang profesional, termasuk pengelolaan keuangan yang transparan, tertib, dan akuntabel. Menurutnya, kepercayaan anggota merupakan aset utama yang harus dijaga oleh setiap pemimpin organisasi.
“Sebagai seorang tokoh, tentu kita harus memberikan contoh yang baik dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh anggota. Jangan sampai ada pihak tertentu yang menggunakan nama organisasi untuk kepentingan pribadi atau melakukan tindakan yang dapat merusak organisasi,” tuturnya.
Ia memastikan akan terus mendukung berbagai program organisasi, khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan masyarakat.
“Saya akan terus memberikan dukungan terhadap kerja-kerja organisasi dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Mari kita jaga marwah organisasi, menghormati mekanisme yang sah, dan tidak memberikan ruang bagi kepemimpinan yang tidak jelas legitimasinya.
Dengan demikian, organisasi dapat terus berjalan secara profesional, kredibel, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
Lebih lanjut ia mengingatkan kepada semua pihak bahwa pentingnya menjalankan organisasi sesuai AD/ART serta menghadirkan program-program yang nyata bagi masyarakat.
“Organisasi tidak cukup hanya memiliki semangat. Harus ada kerja nyata, program nyata, dan kontribusi nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegas Onny.
Pertemuan antara WPPKBI dan KOWANI tersebut diharapkan menjadi awal penguatan kolaborasi antar organisasi perempuan dalam membangun tata kelola organisasi yang sehat, memperkuat regenerasi kepemimpinan, serta meningkatkan kontribusi perempuan Indonesia dalam pembangunan nasional.











