Maret Samuel Sueken, A.Md.T., B.Sc.Eng.: Keterlambatan RDMP Balikpapan Hambat Target Stop Impor BBM.
*JAKARTA* – Komisaris Independen PT Rekayasa Industri Maret Samuel Sueken, A.Md.T., B.Sc.Eng., CGOP, QRGP, CGRCEO menyebut penghentian impor BBM sebagai isu kedaulatan dan harga diri bangsa. Ia mendesak percepatan seluruh proyek kilang strategis agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor.
Pernyataan itu disampaikan Maret, Kamis (3/7/2026), menanggapi target pemerintah yang memulai penghentian impor solar secara bertahap sejak 1 Juli 2026, dan dilanjutkan penghentian impor bensin pada 1 Juli 2027.
“Apakah kita benar-benar telah membangun fondasi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor BBM? Ini pertanyaan yang jauh lebih penting,” ujar Maret yang juga Ketua Umum JPKP dan praktisi EPC lebih dari 26 tahun.
*Paradoks: Kaya Sumber Daya, Lemah Pengolahan*
Maret menyoroti Indonesia yang memiliki minyak bumi, gas, batu bara, panas bumi, surya, nikel, dan merupakan produsen sawit terbesar dunia, namun masih mengimpor sebagian BBM.
“Paradoksnya, kita membeli BBM dari pasar regional yang didukung kapasitas pengolahan di Singapura. Nilai tambah tidak hanya ditentukan oleh sumber daya, tapi kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi,” katanya.
Ia mengibaratkan kondisi itu seperti petani bersawah ribuan hektare tanpa penggilingan padi. “Kita jual gabah, lalu beli beras mahal. Di energi, kapasitas pengolahan kita belum memadai. Akibatnya nilai tambah dinikmati pihak lain,” ujar Maret, A.Md.T., B.Sc.Eng.
*Soroti RDMP Balikpapan yang Tertahan*
Sejak 19 Oktober 2024 menjabat Komisaris Independen PT Rekind, Maret mengaku telah tiga kali melakukan sidak ke Proyek RDMP Balikpapan. Proyek dengan Effective Date 27 Februari 2019 itu awalnya ditarget Mechanical Completion Februari 2023 dan Operational Acceptance Juli 2023. Target kemudian bergeser ke Januari 2025 dan September 2025.
“Hari ini 3 Juli 2026, lebih dari tujuh tahun berlalu. Berdasarkan sidak 13 Juni 2026 dan evaluasi tata kelola 30 Juni 2026, masih ada outstanding konstruksi dan penyelesaian komersial yang harus dipercepat,” jelasnya.
Menurutnya, setiap hari keterlambatan berarti Indonesia terus impor. “Down time adalah cost. Cost yang tidak perlu pada proyek strategis nasional pada akhirnya menjadi kerugian bangsa. Devisa terus keluar untuk energi yang bisa kita produksi sendiri,” tegasnya.
*Desak Satu Komando dan Akuntabilitas*
Maret menilai Indonesia tidak kekurangan program seperti B40, bioavtur, hilirisasi, dan transisi energi. Yang dibutuhkan adalah orkestrasi nasional di bawah satu komando Presiden, dengan satu target dan satu dashboard penyelesaian hambatan.
“Kementerian ESDM, Perindustrian, Pertanian, BUMN, Pertamina, dan kontraktor harus bergerak dalam satu sistem. Kilang bukan sekadar infrastruktur. Kilang adalah simbol kedaulatan energi bangsa,” ujarnya.
Ia juga mendorong penguatan pengawasan lapangan dan penegakan akuntabilitas. “Pengawasan yang baik bukan hanya menemukan masalah, tapi memastikan masalah tidak dibiarkan berlarut-larut. Bila ada kelalaian, harus dievaluasi. Yang bekerja profesional juga harus diapresiasi,” kata Maret.
Ia menutup dengan harapan anak-anak Indonesia tidak lagi bertanya mengapa negara kaya sumber daya justru membeli BBM dari luar. “Stop impor BBM bukan sekadar target pemerintah. Stop impor BBM adalah harga diri bangsa. Sejarah akan mencatat siapa yang benar-benar mewujudkannya,” pungkasnya.











