Bekasi, Cosmopolitanpost.com
Bekasi, 19 Juni 2026 – Kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas masih menjadi perhatian utama di Indonesia.
Melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, perusahaan swasta memang diwajibkan mempekerjakan paling sedikit 1% penyandang disabilitas dari total pekerja.
Namun, aturan ini belum berjalan maksimal. Salah satunya adalah minim ruang pelatihan kerja nyata bagi siswa dan alumni Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk mengasah keterampilan praktis mereka.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business kelas PRDC 27-2TP menyelenggarakan AKSI INKLUSI, sebuah program Community Development bertema “Potensi Inklusi, Raih Profesi” yang dilaksanakan di Nassa Valley, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi, pada tanggal 19 Juni 2026.
Inisiatif ini terselenggara berkat kolaborasi erat dengan Nassa School berkurikulum International Baccalaureate (IB) yang mengintegrasikan nilai inklusivitas serta Happy Bear Center selaku ekosistem pendampingan anak berkebutuhan khusus yang berkomitmen menstimulasi potensi peserta didik agar mampu mandiri di lingkungan profesional serta Student Council Nassa School yang turut berperan sebagai panitia pendukung.
Gelaran AKSI INKLUSI hadir sebagai wadah nyata bagi 30 siswa dan alumni SLB Al-Gaffar Guchany kategori B (tunarungu) dan C (tunagrahita) dalam mempersiapkan diri memasuki dunia industri melalui pengembangan keterampilan, pengalaman praktik, dan simulasi profesi yang dirancang sesuai kebutuhan dunia kerja saat ini.
Langkah mahasiswa LSPR ini sejalan dengan visi kampus dalam membangun komunitas berbasis inklusivitas dan keberlanjutan.
Program ini turut mengimplementasikan Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat tentang Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan simulasi dunia kerja yang melatih soft skill dan hard skill para peserta secara adaptif.
“Banyak orang tua dengan anak disabilitas merasa hopeless akan masa depan anaknya sebelum mereka lulus SLB,” ujar Ribka Desclara Bintoro selaku Ketua Pelaksana AKSI INKLUSI.
“Melalui AKSI INKLUSI, kami ingin mematahkan ketakutan itu dan meyakinkan para orang tua bahwa keterbatasan anak-anak mereka bukan akhir dari sebuah potensi,” tambah Ribka dalam sesi konferensi persnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Rizka Septiana, M.Si., selaku Dosen Pembimbing Community Development, menyatakan bahwa “Kehadiran AKSI INKLUSI bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia industri bahwa melalui pendampingan yang tepat, teman-teman disabilitas memiliki kemampuan kerja yang kompetitif.”
Sebagai persiapan awal tujuh hari sebelum acara puncak, partisipan telah mengikuti rangkaian Pre-Event di Aula SLB Al-Gaffar Guchany berupa basic Personal Grooming Workshop bersama LSPR SSNE (School of Special Needs Education) sebagai Fasilitator, guna memberikan edukasi mengenai hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi di lingkungan profesional.
Memasuki rangkaian Main Event, para peserta penyandang disabilitas dilatih melalui zona simulasi profesi (Job Simulation) pada dua bidang industri, yaitu hospitality bersama ARTOTEL melalui pengenalan profesi Food & Beverage (F&B) dan praktik pembuatan sandwich. Serta bidang retail bersama IKEA melalui simulasi pengelompokan barang berdasarkan bentuk, warna, dan pengemasan produk.
Peserta tidak hanya menerima materi dasar, tetapi ikut terlibat langsung dalam praktik simulasi kerja yang dirancang menyerupai zona industri sehari-hari agar mereka dapat memahami pengalaman kerja secara lebih nyata.
Pada akhir acara, peserta akan mendapat sertifikat partisipasi, serta dokumentasi profesional untuk portofolio mereka.
Selain simulasi kerja bagi siswa, program ini turut menghadirkan sesi talkshow “Kenali dan Dukung Potensi Disabilitas” bagi wali murid.
Talkshow ini menghadirkan Egie Fatmawati selaku Korwil POTADS Bekasi (Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrome); Novrian, S.Sos., M.I.Kom selaku Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi; Lidia Wisneli, M.Psi., sebagai Psikolog Happy Bear Center; serta Sekar Ajeng (Disabilitas Daksa, Mahasiswi LSPR).
Program AKSI INKLUSI ini diharapkan menjadi langkah awal membangun kolaborasi antara dunia pendidikan dan sektor swasta, guna menciptakan peluang kerja setara.
Melalui dukungan nyata berbagai pihak, inisiatif ini bertujuan membuka pintu bagi para penyandang disabilitas untuk berkontribusi secara mandiri pada industri inklusif pada masa mendatang.
[Red-Hendra]











