Klinik Pertamina IHC dan Masa Depan Layanan Kesehatan, Ketika Teknologi, Regulasi, dan Kebutuhan Pasien Bertemu
Jakarta, Cosmopolitanpost.com
Ada paradoks yang menarik dari wajah layanan kesehatan Indonesia hari ini. Di satu sisi, fasilitas kesehatan terus bertambah dan teknologi medis semakin canggih. Namun di sisi lain, banyak pasien justru enggan atau tidak mampu mengaksesnya karena jarak, biaya, dan keterbatasan tempat tidur. Di titik inilah Klinik Pertamina IHC melihat peluang sekaligus tantangan: membawa perawatan setara rumah sakit ke ruang tamu rumah pasien sendiri.
Ambisi itu bukan retorika. Direktur Klinik Pertamina IHC, Devi Desianti Pritasari, dalam sebuah diskusi yang digelar di Indonesia Convention Center (ICE) BSD City pada 8 Oktober 2025 lalu, menegaskan bahwa hospital at home—model perawatan akut yang dilakukan di rumah pasien dengan pemantauan digital dan kunjungan tenaga medis—bukan lagi keniscayaan. “Hospital at home itu bukan suatu keniscayaan, bahkan sudah ada di Singapura dan sukses,” ujarnya. “Sukses di Singapura itu bisa menciptakan efisiensi biaya, efektivitas waktu, dan mencegah infeksi nosokomial.”
Pernyataan Devi muncul dalam acara Introducing New Books bertajuk Transformasi Pelayanan dan Akselerasi Kinerja Menuju Ekosistem Kesehatan Unggul, yang meluncurkan dua buku karya PT Inspiry Indonesia Konsultan: “Hospital at Home” dan “AKSI”. Buku-buku tersebut ditulis oleh Asrul Sani Gunawan dan dr. Gatot Sugiharto, dengan penanggap dr. M. Syahril, Sp.P, MPH, serta Ni Luh Putu Eka Putri Andayani. Acara itu menjadi semacam blueprint akademik yang memberi landasan konseptual bagi apa yang tengah dirintis Klinik Pertamina IHC.
Pelajaran dari Singapura: Bukan Sekadar Inovasi Klinis
Pernyataan Devi merujuk pada realitas yang telah mapan di sejumlah negara maju. Sebuah studi di Singapura menunjukkan bahwa layanan hospital at home (HaH) menghasilkan biaya median per hari sekitar S1.665—jauh lebih rendah dibandingkan perawatan inap konvensional yang bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat. Selain itu, pasien yang dirawat di rumah cenderung makan lebih baik, tidur lebih nyaman, dan yang terpenting, terhindar dari risiko infeksi yang didapat di rumah sakit (hospital-acquired infections).
Di Singapura, model ini bahkan telah diadopsi sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional. Pasien HaH dianggap sebagai pasien rawat inap, sehingga tetap memenuhi syarat untuk klaim asuransi. Hal ini menunjukkan bahwa HaH bukan sekadar inovasi klinis, melainkan sebuah pergeseran paradigma dalam cara sistem kesehatan memandang tempat perawatan.
Bagi Indonesia, implikasi ekonominya signifikan. Dengan populasi yang terus menua—Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 10,5% penduduk Indonesia pada 2025 berusia 60 tahun ke atas—permintaan akan perawatan jangka panjang dan pengelolaan penyakit kronis diproyeksikan melonjak. Tanpa terobosan, beban pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bisa membengkak tak terkendali.
Enam Tahun, 53 Klinik, dan Jalan Panjang Menuju Layanan Terintegrasi
Perayaan enam tahun Klinik Pertamina IHC pada Juli 2026 menjadi momentum refleksi. Berawal dari pelayanan di wilayah Jabodetabek pada 2020, jaringan klinik di bawah naungan PT Pertamina Bina Medika IHC ini kini memiliki 53 klinik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Balikpapan, Prabumulih, dan Tanjung. Lebih dari 39 jenis layanan kesehatan tersedia, mulai dari dokter umum dan dokter gigi, dokter spesialis, Medical Check Up, laboratorium dan farmasi, kesehatan kerja, fisioterapi, psikologi, telekonsultasi, home care, vaksinasi internasional, hingga program kesehatan berbasis teknologi.
Capaian 1,5 juta pelanggan sejak 2020 bukanlah angka yang bisa diremehkan. Di tengah persaingan industri kesehatan yang semakin ketat—dengan kehadiran jaringan klinik swasta besar, rumah sakit korporasi, hingga platform telemedisin digital—Klinik Pertamina IHC berhasil membangun basis pelanggan yang solid, terutama dari sektor korporasi dan pekerja industri.
“Setiap kunjungan adalah amanah. Di balik setiap nomor antrean ada seseorang yang ingin kembali sehat, bekerja, dan pulang kepada keluarga dengan tenang,” kata Devi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/7/2026).
Namun, angka 1,5 juta pelanggan bukanlah puncak perjalanan. Justru dari angka itu, Devi melihat pijakan untuk melompat lebih jauh. Layanan home care yang saat ini tersedia—mencakup kunjungan dokter umum, fisioterapi, hingga pemberian vitamin dan imunisasi di rumah pasien—menjadi fondasi menuju layanan yang lebih kompleks: HaH.
“Kita mengelola ini dan terbuka melayani umum, BPJS, BUMN, semua kita bisa melayani,” tegas Devi. “Harapannya kita bisa berkolaborasi tentunya dan menciptakan suatu layanan yang value-nya terbaik untuk customer dan meningkatkan coverage kita dengan adanya hospital at home.”
Kolaborasi, Bukan Benturan
Kehadiran HaH sering kali menimbulkan pertanyaan: bagaimana posisinya dalam ekosistem JKN yang dikelola BPJS Kesehatan? Apakah model ini akan berbenturan dengan skema yang sudah ada?
Devi menjawabnya dengan tegas: “Ini semestinya menjadi kolaborasi, dan bisa mengentaskan permasalahan daerah terpencil.” Ia melihat potensi besar jika layanan ini diintegrasikan dalam kerangka JKN. “Kalau pemerintah melihat atau membaca kedua buku ini, buku ini adalah kolaborasi yang baik untuk meningkatkan derajat layanan kesehatan Indonesia, termasuk menyelesaikan masalah efisiensi biaya.”
Pandangan ini sejalan dengan diskursus akademik terkini. Sebuah kajian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah menyebutkan bahwa implementasi model Hospital Without Walls di Indonesia memerlukan penyelarasan insentif JKN, termasuk tarif iDRG untuk HaH, mekanisme shared savings, dan kapitas yang disesuaikan risiko. Selain itu, penguatan SATUSEHAT sebagai lapisan utilitas nasional menjadi prasyarat penting.
Tantangan terbesar, sebagaimana diakui dalam berbagai forum akademik, bukan pada konsepnya, melainkan pada kesiapan ekosistem: regulasi, pembiayaan BPJS Kesehatan, serta sistem akreditasi layanan berbasis rumah. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM, melalui serangkaian webinar pada 2026, mencatat bahwa Indonesia masih harus melakukan perbaikan dalam aspek sertifikasi SDM, manajemen alat kesehatan, serta kesadaran dari para pengambil kebijakan. Kementerian Kesehatan RI sendiri tengah mengkaji rancangan payung hukum yang diharapkan dapat merinci aspek medikolegal, pembagian tanggung jawab keselamatan pasien, batasan indikasi dan kontraindikasi klinis, hingga standar informed consent khusus.
Devi menyadari tantangan ini, namun ia memilih sikap optimistis. “Tantangannya kolaborasi dan inovasi. Tapi kan sudah ada nih, kita tinggal ATM—amati, tiru, modifikasi,” ujarnya. “Itu aja tantangannya: kolaborasi antar fungsi pemerintahan, swasta, dan semua inovasi.”
Teknologi sebagai Fondasi
Kunci dari HaH adalah teknologi. Tanpa pemantauan jarak jauh (remote patient monitoring), telemedicine, dan rekam medis elektronik yang terintegrasi, membawa perawatan akut ke rumah akan menjadi misi yang mustahil.
Di sinilah SATUSEHAT memainkan peran krusial. Platform interoperabilitas nasional yang dikembangkan Kementerian Kesehatan ini memungkinkan data rekam medis pasien dari berbagai fasilitas kesehatan terhubung dalam satu ekosistem berbasis individu. Hingga 31 Juli 2026, sebanyak 42.337 fasilitas pelayanan kesehatan telah terintegrasi dengan SATUSEHAT.
“Kalau ada uang aplikasi ya, aplikasi satu sehatnya, bersama dengan ini maju, rumah sakit semua menerapkan ini rasanya sih investasi tidak akan terlalu mahal lagi,” ujar Devi. “Ya untuk case-case tertentu, tentunya harus dilihat lagi clinical need-nya.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa HaH bukanlah solusi universal. Tidak semua pasien cocok untuk dirawat di rumah. Kondisi klinis, ketersediaan caregiver, dan kesiapan infrastruktur rumah menjadi faktor penentu. Namun untuk kasus-kasus tertentu—pasien geriatri dengan penyakit kronis stabil, pasien pasca operasi tanpa komplikasi, atau pasien paliatif yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga—HaH bisa menjadi jawaban.
Masa Depan yang Lebih Dekat dari yang Dibayangkan
Enam tahun Klinik Pertamina IHC adalah cerita tentang pertumbuhan: dari satu titik layanan di Jabodetabek menjadi jaringan 53 klinik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dari layanan dasar menjadi lebih dari 39 jenis layanan kesehatan. Dari sekadar tempat berobat menjadi mitra kesehatan keluarga.
Namun jika Devi bisa memilih satu babak berikutnya dari cerita ini, ia mungkin akan memilih babak di mana rumah sakit tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk sembuh. Di mana pasien bisa pulang lebih cepat tanpa kehilangan kualitas perawatan. Di mana keluarga tidak perlu terpisah dari orang yang mereka cintai hanya karena keterbatasan tempat tidur rumah sakit.
“Hospital at home adalah inovasi yang baik,” katanya. “Harapannya kita bisa berkolaborasi tentunya dan menciptakan suatu layanan yang value-nya terbaik untuk customer.”
Dengan semangat efisiensi, inovasi, dan kolaborasi, Klinik Pertamina IHC tidak hanya merayakan enam tahun perjalanan. Mereka sedang menandai awal dari perjalanan yang lebih panjang—perjalanan yang membawa rumah sakit lebih dekat ke rumah pasien, satu kunjungan demi satu kunjungan.
Tentang Klinik Pertamina IHC
Klinik Pertamina IHC adalah jaringan klinik terintegrasi di bawah PT Pertamina Bina Medika IHC. Dengan 53 klinik yang tersebar di seluruh Indonesia, Klinik Pertamina IHC menyediakan lebih dari 39 jenis layanan kesehatan, meliputi layanan dokter umum dan dokter gigi, dokter spesialis, Medical Check Up, laboratorium dan farmasi, kesehatan kerja, fisioterapi, psikologi, telekonsultasi, home care, vaksinasi internasional, serta berbagai program kesehatan berbasis teknologi. Layanan tersedia melalui Klinik Pratama, Klinik Utama, Unit Kesehatan Kerja, klinik perusahaan, dan layanan korporasi.











