Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati, Setya Graha: Daya Saing Tambang Indonesia Kini Bergantung pada Efisiensi Aset dan Infrastruktur Berkelanjutan

banner 468x60

 

Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati, Setya Graha: Daya Saing Tambang Indonesia Kini Bergantung pada Efisiensi Aset dan Infrastruktur Berkelanjutan

 

Jakarta, Cosmopolitanpost.com

 

Industri pertambangan Indonesia tengah memasuki fase transformasi krusial. Di tengah volatilitas harga komoditas global, tuntutan efisiensi operasional, dan tekanan terhadap standar Environmental, Social, and Governance (ESG), pelaku industri dituntut untuk tidak lagi hanya mengandalkan volume produksi, melainkan berfokus pada optimalisasi aset dan infrastruktur yang adaptif.

Tantangan dan peluang strategis ini menjadi sorotan utama dalam Mining Excellence Forum 2026 yang digelar pada Rabu (9/9/2026) di GPN Stage, JIEXPO Kemayoran, Jakarta.
Mengusung tema “Navigating Mining Competitiveness: Market Dynamics, Asset Performance and Infrastructure Solutions”, forum ini menjadi ruang kolaborasi strategis bagi perusahaan tambang, kontraktor pertambangan, penyedia teknologi, hingga pemangku kebijakan untuk merumuskan langkah konkret menjaga daya saing industri.

Forum ini menyoroti tiga pilar utama yang saling beriringan: dinamika pasar, optimalisasi kinerja aset, dan penguatan solusi infrastruktur. Ketiganya dinilai sebagai fondasi mutlak dalam menentukan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan operasi pertambangan di masa depan.

Optimalisasi Aset sebagai Kunci Efisiensi

Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati, Setya Graha, dalam wawancaralx dengan para awak media menegaskan bahwa paradigma daya saing pertambangan telah bergeser.

 

Perusahaan tidak hanya dituntut untuk membaca perubahan pasar, tetapi juga harus lincah dj jobalam mengambil keputusan bisnis di tengah ketidakpastian.
“Peningkatan daya saing pertambangan hari ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh seberapa besar produksi yang kita hasilkan, tetapi bagaimana kita mengelola aset, meningkatkan produktivitas, dan mengambil keputusan bisnis yang tepat,” ujar Setya.

Ia menekankan bahwa optimalisasi aset adalah kunci untuk bertahan di tengah tekanan biaya operasional. Pengelolaan alat berat dan infrastruktur yang presisi, menurutnya, akan berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya.

Adaptasi Operasional dan Keberlanjutan

Senada dengan hal tersebut, Chief Executive Officer PT Ucoal Sumberdaya, FH. Kritiono, menambahkan bahwa strategi operasional perusahaan tambang harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika industri.

Menurut FH. Kritiono, perusahaan pertambangan modern dituntut untuk menyeimbangkan berbagai target yang kompleks: mengejar target produksi, sekaligus menjamin keandalan aset, menekan biaya, menjaga keselamatan kerja (K3), dan memenuhi standar keberlanjutan lingkungan.

“Membangun strategi yang adaptif adalah sebuah keharusan. Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama jika ingin tetap relevan dan kompetitif,” paparnya.

Transformasi Berbasis Teknologi dan Kolaborasi

Mining Excellence Forum 2026 hadir di momentum yang tepat, mengingat industri pertambangan sedang didorong oleh perkembangan teknologi, efisiensi energi, dan meningkatnya perhatian global terhadap aspek lingkungan.

Pemanfaatan teknologi seperti modernisasi peralatan, optimalisasi data operasional (data-driven mining), serta pemeliharaan aset berbasis teknologi (predictive maintenance) menjadi solusi untuk menekan potensi downtime dan kehilangan waktu operasional.

Lebih dari sekadar diskusi teknis, forum ini juga menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi antarpelaku industri. Pertukaran pengetahuan antara pemimpin perusahaan, praktisi, dan penyedia teknologi dinilai vital untuk menemukan solusi inovatif atas tantangan pertambangan yang semakin kompleks.

Membangun Karakter Tambang yang Berdaya Saing

Pada akhirnya, para pembicara sepakat bahwa daya saing industri pertambangan Indonesia ke depan tidak akan lagi hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah.

“Daya saing kita ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan industri dalam mengelola SDA tersebut secara efisien, produktif, inovatif, dan berkelanjutan. Melalui penguatan kinerja aset dan infrastruktur yang tepat, sektor pertambangan akan semakin siap menghadapi perubahan pasar dan memperkuat kontribusinya bagi perekonomian nasional,” pungkas perwakilan panitia dalam sesi penutup.

Mining Excellence Forum 2026 diharapkan mampu menghasilkan peta jalan baru bagi sektor pertambangan Indonesia, memastikan industri ini tetap menjadi tulang punggung perekonomian nasional yang tangguh dan berkelas dunia.
###

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *