Jakarta, 5 April 2026 – Suasana hangat penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Halal Bihalal dan Silaturahmi Dulur Cirebonan (Ciayumajakuning) yang mempertemukan masyarakat asal Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan yang berdomisili di berbagai daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Sukamto, Owner Restoran Kampung Daun Bandung yang juga merupakan putra asli Cirebon, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini sebagai wadah mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar sesama perantau.
“Saya selaku orang asli Cirebon sangat mendukung kegiatan halal bihalal dan silaturahmi Dulur Cirebonan ini. Ini menjadi momentum bagi kita masyarakat Ciayumajakuning untuk berkumpul, mempererat persahabatan, dan menjaga kekompakan,” ujar Sukamto.
Namun, di balik suasana kebersamaan tersebut, Sukamto juga menyoroti persoalan strategis yang dihadapi masyarakat daerah, khususnya terkait alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri yang kian meningkat.
Menurutnya, saat ini terjadi benturan kepentingan antara mempertahankan sawah sebagai lahan produktif pangan atau mengalihfungsikannya untuk kebutuhan industri. Meskipun pemerintah telah mengatur bahwa setiap alih fungsi lahan sawah harus diganti tiga kali lipat, implementasinya di lapangan tidaklah mudah.
“Masalahnya, tidak gampang mencari lahan yang cocok untuk dijadikan sawah baru. Banyak lahan yang tersedia hanya berupa sawah tadah hujan tanpa saluran irigasi yang memadai,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan semakin kompleks dengan menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi mengancam keberlanjutan produksi pangan di masa depan.
“Sekarang banyak anak muda yang sudah tidak mau menjadi petani. Ini harus menjadi perhatian bersama agar sektor pertanian tetap hidup dan berkembang,” tegas Sukamto.
Melalui momentum halal bihalal ini,
Sukamto berharap tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang diskusi dan kepedulian bersama dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan industri dan keberlangsungan sektor pertanian.
“Kita harus bisa mengedepankan pertanian sebagai kekuatan utama, tanpa mengabaikan pembangunan, sehingga keduanya bisa berjalan seimbang demi masa depan daerah,” pungkasnya.











