Jakarta — Angkutan umum bus perkotaan Transjakarta telah melayani warga Jakarta selama 21 tahun sejak 15 Januari 2004 dan terus berkembang menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan. Memasuki usia layanan ke-22 tahun, Transjakarta kini mengoperasikan 232 rute, mencakup 14 koridor utama, layanan non-koridor, angkutan pengumpan, serta menjangkau berbagai wilayah Bodetabek.
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Refleksi 21 Tahun Transjakarta yang diselenggarakan oleh Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN) bersama MTI Wilayah Jakarta, KPBB, dan Suara Transjakarta, bertempat di Aula Pertemuan KPBB, Skyline Building Lantai 16, Jakarta Pusat, Senin (19/01/26).
Direktur Utama PT Transjakarta, Welfizon Yuza, dalam kata sambutannya menegaskan bahwa refleksi perjalanan Transjakarta tidak hanya menjadi momentum melihat ke belakang, tetapi juga menjadi modal penting untuk melangkah ke depan.
“Refleksi ini ada dua makna penting. Pertama, melihat kembali perjuangan dan keputusan politik di awal pendirian Transjakarta. Kedua, menjadi bekal untuk menjawab tantangan ke depan,” ujar Welfizon.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para perintis Transjakarta, termasuk Ir. Yos Ginting dan tim awal, yang telah meletakkan fondasi layanan bus perkotaan modern di Jakarta. Menurutnya, tantangan hari ini jauh lebih ringan dibandingkan perjuangan pada masa awal operasional.
Dalam refleksi tersebut, Welfizon mencatat enam pekerjaan rumah (PR) yang disampaikan para pakar transportasi, yang sebagian telah masuk dalam program Transjakarta dan akan terus dipercepat implementasinya.
Salah satu fokus utama Transjakarta ke depan adalah integrasi sistem transportasi.
“Transjakarta harus menjadi integrator. Keunggulan moda bus adalah fleksibilitas—lebih cepat diimplementasikan dan relatif lebih terjangkau dibandingkan moda lain,” jelasnya.
Welfizon juga menekankan pentingnya co-creation bersama masyarakat dan komunitas pengguna. Setiap bulan, Transjakarta menerima sekitar 25 ribu masukan publik, mulai dari pertanyaan, informasi, apresiasi, hingga keluhan, yang menjadi indikator kinerja utama dalam rapat direksi dan komisaris.
Dari sisi jangkauan layanan, hingga 31 Desember 2025, jaringan Transjakarta telah mencakup 92,4 persen wilayah Jakarta, dengan standar jarak berjalan kaki sekitar 500 meter. Namun, tantangan masih besar pada tingkat pemanfaatan.
“Mode share angkutan umum baru sekitar 22–25 persen. Artinya ada gap besar antara ketersediaan layanan dan jumlah pengguna. Ini PR kita bersama,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Transjakarta mulai menguatkan komunikasi dan pemasaran layanan publik, dengan menonjolkan manfaat fungsional—lebih cepat, murah, dan terjangkau—serta manfaat emosional, seperti kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.
Berdasarkan perhitungan bersama WRI Indonesia, setiap perjalanan yang beralih dari mobil pribadi ke Transjakarta mampu menurunkan emisi hingga 94 persen per orang per perjalanan.
Menutup sambutannya, Welfizon menegaskan bahwa keberhasilan transformasi Transjakarta sangat bergantung pada akuntabilitas publik, kualitas layanan, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“Yang terpenting bagi masyarakat adalah keselamatan, keamanan, dan pelayanan yang baik. Ini tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.











