Jakarta, Cosmopolitanpost.com
Jakarta, 30 Juni 2026 – Pudjiadi and Sons Tbk (PNSE) mencatatkan pendapatan usaha 2025 sebesar Rp.227,490 miliar turun dari Rp.241,138 miliar di 2024, sedangkan laba rugi bersih tahun 2025 mengalami rugi bersih sebesar Rp.2,090 miliar dalam laporan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang telah diselenggarakan di The Jayakarta SP Jakarta Hotel & Spa, Jakarta Barat (30/6/26).
Keputusan RUPST hari ini yang signifikan adalah persetujuan pemegang saham atas rencana transaksi material, yaitu penjualan aset tetap berupa tanah di Bali. Langkah ini diambil untuk memperbaiki fundamental keuangan perseroan di tengah tantangan industri perhotelan yang kian berat.
Penjualan Tanah dan Perbaikan Struktur Modal
Penjualan tanah seluas kurang lebih 42.644 meter persegi yang dimiliki oleh anak perusahaan PT Bali Realtindo Benoa (BRB) dengan nilai transaksi yang disepakati sebesar Rp.159,915 miliar atau setara dengan 83,18% dari total ekuitas perseroan per 31 Desember 2025.
Aksi korporasi ini sejalan dengan rencana manajemen untuk menjual aset yang belum produktif guna memperbaiki struktur keuangan dan arus kas.
Transaksi ini merupakan realisasi dari strategi dalam mencapai pemulihan keuangan.
Ariyo Tedjo, Direktur PNSE mengungkapkan, “Dana hasil penjualan akan digunakan untuk melunasi kewajiban perbankan, menambah modal kerja, serta mendanai renovasi hotel untuk meningkatkan daya saing usaha,” dalam Paparan Publiknya.
Struktur Kepengurusan Baru
Selain itu, Perseroan juga memutuskan untuk mengangkat kembali susunan pengurus Perseroan untuk masa bakti baru.
Berikut adalah struktur kepengurusan yang akan menjabat hingga penutupan RUPS Tahunan tahun buku 2028 yang diselenggarakan pada tahun 2029:
· Kristian Pudjiadi sebagai Direktur Utama
· Ariyo Tejo sebagai Direktur
· Lukman Pudjiadi sebagai Komisaris Utama
· Marianti Pudjiadi sebagai Komisaris
· Budhi Liman sebagai Komisaris Independen
Kendala dan Tantangan Sektor Perhotelan Tahun 2026
Penurunan daya beli masyarakat dan efisiensi anggaran pemerintah berdampak pada tingkat permintaan layanan akomodasi disamping itu, pelangan juga cenderung lebih selektif memilih hotel.
Perseroan juga menyoroti dampak perang Iran, Israel, dan Amerika yang memicu wisatawan menahan perjalanan internasional karena faktor keamanan dan ketidakpastian ekonomi. Fluktuasi harga bahan baku dan kebutuhan operasional turut menekan struktur biaya serta profitabilitas.
Perseroan telah menyusun strategi untuk menghadapi tantangan tersebut. Fokus utama adalah optimalisasi sumber daya manusia melalui tenaga kerja multi-kompetensi, pemanfaatan media digital untuk promosi, serta pengembangan konsep Environmental, Social, and Governance (ESG).
Rencana Peningkatan Kinerja Perseroan
Mengacu pada data proyeksi, perseroan menargetkan peningkatan kinerja keuangan yang cukup signifikan pada tahun 2026.
Pendapatan usaha diproyeksikan mencapai Rp.235,691 miliar, meningkat dari realisasi tahun 2025 sebesar Rp.227,490 miliar, sedangkan laba operasional juga ditargetkan naik menjadi Rp.71,847 miliar.
Peningkatan laba sebagian besar dari penjualan aset tanah di Bali dalam memperbaiki struktur keuangan perseroan dalam membayar hutang bank.
Selain memperbaiki tingkat efisiensi operasi perusahaan, juga optimalisasi sumber daya manusia melalui penerapan tenaga kerja multi-kompetensi guna meningkatkan fleksibilitas operasional.
Dan secara berkesinambungan dalam berbagai kegiatan promosi baik tingkat internsional dan domestik, dan diharapkan dapat memperluas jaringan bisnis, peluang kerja sama, serta menarik segmen pasar baru.
[Red-Hendra]











