Kerjasama IFI dan Ananda Sukarlan Center (ASC) dalam pengembangan dan pendidikan musik klasik telah berlangsung sejak penandatangan perjanjian di IFI tahun 2014.
Melalui ASC diselenggarakan Kompetisi Ananda Sukarlan Award (ASA) untuk semua instrumen dan Tembang Puitik (vokal klasik) yang digelar di auditorium IFI.
Sebagai bentuk komitmen IFI dalam mendukung perkembangan seni dan kebudayaan di Indonesia, mulai dari tahun 2014, pemenang utama Kompetisi ASA mendapat beasiswa “summer course” di Prancis. Mereka yang telah menerima beasiswa ini adalah para pianis Anthony Hartono, Joshua Victor dan Calvin Abdiel Tambunan. Tahun ini pemenang utama ASA adalah Michael Anthony Kwok yang notabene tunanetra dan penyandang autis yang akan berangkat ke Prancis tahun 2026 mendatang.
Para pemenang lain juga akan mendapatkan hadiah masterclasses dengan para pemusik Prancis yang tergabung dalam Trio Saint-Saens ini selama kunjungan mereka ke Indonesia minggu ini.
Mereka adalah pianis Geraldine Laura Vianne dan Yonggi Fayden Cordias Purba (masing-masing juara 1 dan juara ke-3 kategori Young Artist), serta pemain biola Veeshan Nathaniel Tandino dan Andreas (juara ke-2 dan ke-3 kategori instrumen gesek /chamber music).
Ananda Sukarlan berharap para pemenang ASA dapat lebih mengenal musik Prancis dan mereka dapat memperkenalkan musik klasik Indonesia, yang tidak hanya gamelan, kepada publik Prancis.
“Semoga kerjasama ini mencetak seniman-seniman tangguh dan beridentitas serta memiliki jati diri yang kuat. Kenapa kita mengagumi dan terinspirasi oleh karya seorang seniman? Karena kualitas, tapi juga filosofi, perspektif dan point of view-nya. AI mungkin bisa mengejar kualitas teknik, tapi tidak memiliki semua elemen lainnya”, ujar Ananda.
Sedangkan menurut perwakilan Yogyakarta Royal Orchestra, Kanjeng Pangeran Notonegoro mengatakan, “Konser ini adalah kali pertama kami bekerja sama dengan Kedutaan Perancis. Kami tentunya sangat berbangga dapat berkolaborasi dengan musisi-musisi klasik Perancis sebagai salah satu pusat musik klasik dunia. Kebetulan tahun ini momentumnya sangat pas karena memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Perancis. Saya berharap kerja sama ini bukan yang terakhir kalinya”.
Anggota Trio Saint-Saëns mewakili keunggulan panggung musik Prancis, yaitu:
-
· Éric Lacrouts, concertmaster dari Opéra national de Paris, yang terkenal karena interpretasinya terhadap repertoar romantik.
-
· Fabrice Loyal, cellist virtuoso yang pernah berbagi panggung dengan Martha Argerich dan Emmanuel Pahud, serta aktif dalam pengajaran musik.
-
· Orlando Bass, pianis dan komposer peraih penghargaan pada Kompetisi Piano Messiaen, serta dosen harmoni di Conservatoire de Paris.
Dari musik barok dengan Rameau hingga para pionir seperti Boulez, melalui Chopin, Fauré, Ravel, Bizet, atau Debussy, Prancis memainkan peran sentral dalam lanskap musik klasik dan perkembangannya, seringkali berada di garis depan, seperti yang ditunjukkan oleh Debussy, yang terinspirasi oleh gamelan Indonesia sejak akhir abad ke-19.
Hingga saat ini, konservatori dan sekolah musik Prancis – termasuk Conservatoire supérieur de musique et de danse de Paris et Lyon yang prestisius atau Ecole normale de musique de Paris – orkestra filharmonik nasional atau regionalnya, dan kebijakan pemerintah yang mendukung kreativitas, memastikan vitalitas tradisi musik klasik Prancis.